SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Hari Ini Nasional
Beranda » Gede Ruma Kaget Diberikan Tali Asih Atas Lahan Yang Ditinggalkannya Begitu Saja

Gede Ruma Kaget Diberikan Tali Asih Atas Lahan Yang Ditinggalkannya Begitu Saja

BALI, LOGIKABERITA.COM – Tak terpikir dan tak pernah terbayang sebelumnya, setelah sekian puluh tahun lamanya, Gede Ruma yang merupakan salah seorang warga asli Provinsi Bali dan pernah menjadi warga transmigrasi Bekambit sekitar tahun 1988. Tiba-tiba pada tahun 2022 lalu ada perwakilan perusahaan dari Kabupaten Kotabaru mendatangi dirinya serta menyerahkan tali asih berupa uang atas lahan yang pernah ia garap puluhan tahun silam.

Sekedar diketahui, kawasan eks transmigrasi yang sebelumnya di peruntukkan bagi masyarakat trans di Desa Bekambit Kecamatan Pulau Laut Timur Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Kini, sebagian areanya masuk kedalam wilayah kerja salah satu perusahaan pertambangan.

Saat di jumpai secara langsung di kediamannya di Desa Tunjung, Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng, Bali, pada awal akhir Februari kemarin, sedikit ia menceritakan selama menjadi warga transmigrasi Bekambit Kecamatan Pulau Laut Timur, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Sejak tahun 1988 hingga 1992, ia sempat berpindah tempat ke Desa Megasari kurang lebih selama 3 tahun sebelum akhirnya di tahun itu memutuskan kembali ke Bali, karena menurutnya sudah tidak bisa bertahan lagi dengan hanya sedikit penghasilan.

Tak Percaya Bakal Dapat Tali Asih, Gede Suarsana Sempat Diragukan Warga Bali

“Selama di Bekambit saya menanam ubi kayu dan padi namun tidak berhasil, hingga memutuskan untuk mencari pekerjaan lain menjadi buruh pada perkebunan kelapa sawit. Bahkan, sempat juga kalau tidak salah ingat pada tahun 1993 menjadi pengayuh becak untuk bertahan hidup,” ungkap Gede Ruma.

Berdasarkan informasinya, Gede Ruma sebelum menjadi warga transmigrasi Bekambit kehidupannya di Bali sangat tidak mencukupi bahkan untuk tempat tinggal pun tidak punya, setelah menerima tali asih di tahun 2022 lalu, ia membeli tanah yang diatasnya dibangun tempat tinggal yang hanya berukuran kecil. Sekarang, ia sendiri bekerja sebagai pengambil upah memangkas rumput yang sehari-harinya hanya mendapatkan uang sebesar Rp100 ribu dan itupun pekerjaan musiman, tak selalu ada yang memerlukan tenaganya.

Ketika ditanyakan hal ihwal terkait sertifikat lahan transmigrasi Bekambit, ia justru sama sekali tidak pernah mendengar bahkan tidak mengetahuinya. Belakangan ia baru diberikan informasi bahwa lahan tersebut ada surat tanahnya dan ia pun tidak terlalu memperdulikan hal tersebut karena merasa tidak percaya.

“Ada orang datang memberi informasi tentang sertifikat lahan miliknya dan akan ada pemberian tali asih, tentu hal itu membuat kaget dan saya pribadi sangat senang, ternyata benar. Karena selama puluhan tahun hal itu sama sekali tidak pernah terpikirkan lagi. Yang jelas, saya sangat berterimakasih atas tali asih itu karena sama saja ketiban rejeki yang tak di sangka-sangka,” tutupnya. (redaksi)

Setelah Diberi Tali Asih, Kini Soal Sertifikat Menjadi Perhatian

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement