BALI, LOGIKABERITA.COM – Sudah puluhan tahun sejak 1988 lalu, warga eks transmigrasi yang ada di Desa Bekambit Kecamatan Pulau Laut Timur Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, yang akhirnya memilih untuk kembali ke kampung halaman mereka di Provinsi Bali. Tentu bukan hal mudah menjalani hidup di perantauan untuk mencari sumber penghidupan baru, dengan mimpi meningkatkan perekonomian dan sukses namun apa yang menjadi keinginan tak sesuai harapan.
Memulai kehidupan baru di kawasan transmigrasi Bekambit, tak banyak cerita yang bisa di gali namun hampir rata-rata kisah yang di dapat adalah tentang susahnya hidup mulai dari lahan tak produktif, mencari penghidupan lain untuk bertahan hidup seperti bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit, banjir di area lahan pertanian, dan lain sebagainya.
Seperti yang di ceritakan oleh Gede Sukrawan yang ditemui langsung di kediamannya di Desa Bebetin Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng Bali, pada akhir bulan Februari 2026 kemarin, secara garis besar ia hanya mengisahkan susahnya hidup di perantauan, awal keberangkatan untuk mengikuti program pemerintah pusat kala itu yakni transmigrasi yang di tempatkan jauh dari kampung halamannya.

“Kalau boleh saya jelaskan memang awalnya normal saja saat baru pertama datang dan menggarap lahan yang disediakan. Namun, berjalannya waktu ternyata area tanam yang digarap tak mampu menghasilkan banyak, seperti ubi kayu dan padi karena lahan yang ada saya nilai kurang produktif dan yang lebih parahnya adalah banjir sehingga tanaman bisa di katakan gagal panen,” papar Gede.
Menurutnya, ada satu yang menjadi kendala lainnya adalah pemasaran hasil panen yang saat itu dinilai belum menjanjikan sehingga apa yang diharapkan jauh dari mampu meningkatkan perekonomian.
“Saya tidak lama bermukim di Desa Bekambit itu, kemudian pindah ke Desa Megasari Kecamatan Pulau Laut Utara yang menurut informasinya disana lahannya lebih bisa di tanami karena area pegunungan, dan akhirnya memutuskan kembali ke kampung saya di Bali sekitar tahun 1998,” tambahnya kemudian.
Menurut pengakuannya, berkenaan dengan lahan di Desa Bekambit yang pernah di garap bersama warga Bali lainnya, karena tidak produktif kemudian di tinggal begitu saja. Saat di tanyakan soal sertifikat di atas lahan yang pernah di garap tersebut, ia hanya menjawab tidak mengetahui persoalan itu.
“Jujur saja, saya sama sekali tidak mengetahui ada sertifikat diatas lahan yang saya garap itu. Belakangan setelah beberapa tahun terakhir baru ada informasi bahwa ternyata ada sertifikatnya dan karena sudah ditinggal sehingga dianggap hilang saja,” jelasnya.
Bahkan, katanya melanjutkan, di tahun 2022 lalu ada yang datang ke Bali membawakan tali asih berupa uang untuk diberikan kepada beberapa orang yang tentu hal itu menjadi rejeki nomplok karena sama sekali tak menyangka.
“Kaget, senang dan tidak percaya, tiba-tiba ada yang datang yang katanya perwakilan dari perusahaan membawakan tali asih dengan nilai yang lumayan besar. Tentu saya sangat senang mendapatkan itu, karena memang lahan yang dulu digarap dianggap hilang dan ternyata ada harganya. Kalau saya sih mengatakannya ini adalah rejeki uang kaget dan sangat luar biasa,” imbuhnya pula.
Selain itu juga, pada saat itu ia dan beberapa orang lainnya telah memberikan kuasa kepada salah seorang pengacara di Kabupaten Kotabaru untuk bisa membantu menyelesaikannya dan itupun warga sangat merasa terbantukan karena pada akhirnya tanpa di sangka-sangka sebagian warga eks transmigrasi khususnya warga Bali mendapatkan tali asih.
“Sebagai catatan lainnya adalah lahan itu kami tinggal begitu saja, tanpa pernah melihat sertifikat dan sama sekali tidak pernah menjualnya karena memang itu adalah lahan yang di khususkan bagi warga transmigrasi,” ujarnya lagi.
Kisah serupa, sama halnya yang di ceritakan oleh warga Bali lainnya, I Cening Rawat, Nyoman Sintiawan, Gede Ruma dan beberapa warga eks transmigrasi lainnya yang di temui secara langsung di kediaman mereka. Semua ceritanya hampir sama, bagaimana mengelola lahan yang di nilai kurang produktif, masalah banjir, proses bertahan hidup, hingga mendapatkan rejeki nomplok dari perusahaan yang memberikan tali asih tanpa di sangka dan tidak pernah terpikirkan.

Kaget karena mendapatkan tali asih, seperti yang diutarakan Nyoman Sintiawan yang kini kesehariannya adalah membuat kerajinan alat musik khas Bali dari bambu, ia datang ke Kabupaten Kotabaru sekitar tahun 1988 dan kembali ke Bali pada tahun 1990.
Pengakuannya sama dengan warga lainnya, pada saat awal tanam dinilai bagus dan setelah mencoba untuk tanam kedua kali sama sekali tidak berhasil, komoditas tanaman pun yang ia tanam dari berbagai macam sayuran seperti cabai, mentimun, kacang panjang, ubi kayu dan padi. Namun kesemuanya tak menghasilkan karena area tanam tergenang banjir.
“Karena saya anggap tidak berhasil, maka segera memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Buleleng, tanpa memikirkan lahan yang digarap tersebut. namun tiba-tiba dalam beberapa tahun kemarin ada yang membawakan tali asih dan itu membuat saya terkejut dan pastinya juga sangat berterimakasih kepada perusahaan yang memberikan tali asih yang uangnya saya pergunakan untuk berbagai macam keperluan,” katanya. (redaksi)
Komentar