TANAH LAUT, LOGIKABERITA.COM – Penanganan HIV/AIDS di Kabupaten Tanah Laut, khususnya di RSUD H Boejasin, terus diperkuat melalui pendekatan komprehensif yang berfokus pada deteksi dini, konseling, serta pemberian terapi antiretroviral (ARV) gratis dari pemerintah. Terapi ini menjadi upaya utama untuk mengendalikan perkembangan virus HIV dalam tubuh dengan tujuan menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi, sehingga penderita dapat tetap hidup sehat dan menjalani aktivitas secara normal.
Sebagai rumah sakit rujukan utama, rumah sakit ini menyediakan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT), perawatan, serta terapi ARV melalui Poliklinik Khusus VCT bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA), dengan jaminan kerahasiaan dan tanpa biaya. Dalam pelaksanaannya, pasien menjalani pemantauan klinis berkala melalui pemeriksaan CD4 dan viral load, serta didukung pendampingan untuk memastikan kepatuhan minum obat demi keberhasilan terapi.
Kepada logikaberita.com, Jumat (22/05/26), Direktur RSUD H Boejasin, dr Sigit Prasetia Kurniawan mengungkapkan bahwa, tantangan dilapangan masih cukup kompleks. Dalam beberapa waktu terakhir terjadi peningkatan kasus HIV, terutama pada kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL), tren yang juga terlihat secara nasional. Banyak pasien datang dalam kondisi sudah lanjut, bahkan stadium III–IV dengan gejala seperti penurunan berat badan drastis, diare atau demam berkepanjangan, hingga infeksi jamur mulut.
“Kondisi ini umumnya terjadi akibat keterlambatan pemeriksaan. Di sisi lain, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining turut berkontribusi pada meningkatnya jumlah kasus terdeteksi, yang menunjukkan perbaikan dalam deteksi dini,” tuturnya.
Ia menegaskan, faktor risiko pada kelompok LSL lebih banyak dipengaruhi perilaku seksual berisiko, seperti hubungan tanpa pengaman, pergantian pasangan yang tinggi, serta keterbatasan edukasi kesehatan reproduksi. Namun, ia menekankan bahwa HIV tidak semata terkait orientasi seksual, melainkan perilaku berisiko serta masih kuatnya stigma yang membuat masyarakat enggan memeriksakan diri lebih awal. Karena itu, pelayanan selalu mengedepankan empati dan kerahasiaan agar pasien merasa aman mengakses layanan kesehatan.
Selain sebagai Direktur RSUD H Boejasin, yang mana saat sekarang ia juga merupakan seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan juga sebagai Ketua IDI Wilayah Kalimantan Selatan Periode 2025-2028, menjelaskan bahwa RSUD H Boejasin menerapkan layanan HIV/AIDS secara menyeluruh, mulai dari skrining, pemeriksaan laboratorium, konseling pra dan pasca tes, hingga pengobatan dan pemantauan berkelanjutan. Rumah sakit juga melibatkan konselor dan program pendampingan untuk memastikan kepatuhan terapi ARV serta dukungan psikologis bagi pasien. Edukasi pentingnya kontrol rutin terus diberikan meski pasien merasa sehat, guna menjaga efektivitas pengobatan jangka panjang.
“Upaya pencegahan turut diperkuat melalui program promotif dan preventif, termasuk PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit) yang berfokus pada edukasi, skrining sukarela, serta kerja sama dengan dinas kesehatan dan komunitas. Pendekatan humanis menjadi kunci agar kelompok berisiko merasa aman dan tidak terhakimi saat mengakses layanan kesehatan. Semakin cepat dilakukan pemeriksaan, semakin dini diagnosis ditegakkan, sehingga peluang keberhasilan pengobatan semakin besar,” jelasnya kemudian.
Selain itu, lanjutnya lagi, manajemen RSUD H Boejasin terus memperkuat internal tenaga kesehatan melalui edukasi dan pelatihan rutin untuk menekan stigma. Tenaga kesehatan diingatkan untuk menjunjung tinggi profesionalisme, etika pelayanan, serta prinsip nondiskriminasi terhadap ODHIV. HIV ditegaskan sebagai penyakit medis yang harus ditangani secara ilmiah dan manusiawi tanpa stigma.
“Dari sisi sosial, rumah sakit juga berperan sebagai pusat edukasi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang penularan, pencegahan, dan pengobatan HIV. Upaya ini diharapkan dapat menekan stigma sekaligus mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan dini, terutama kelompok berisiko,” tambahnya.
Pendekatan kesehatan masyarakat yang inklusif juga menjadi kunci pengendalian HIV/AIDS, dengan menekankan akses layanan yang mudah, edukasi, serta penghapusan stigma. Fokus utama diarahkan pada pencegahan penularan dan peningkatan kualitas hidup ODHIV.
“Kolaborasi lintas sektor turut diperkuat melalui sinergi antara rumah sakit, dinas kesehatan, puskesmas, organisasi masyarakat, pemerintah daerah, dan komunitas pendamping. Kerja sama ini diharapkan mampu menekan angka kasus baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan kepatuhan pengobatan,” pungkasnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, penanganan HIV/AIDS di Tanah Laut tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat. HIV kini diposisikan sebagai kondisi medis yang dapat dikendalikan, sehingga ODHIV tetap dapat hidup sehat, produktif, dan bersosialisasi secara normal di tengah masyarakat. (Rossi)










