TANAH LAUT, LOGIKABERITA.COM – Kabar duka menyelimuti dunia seni dan literasi di Kabupaten Tanah Laut. Seniman serta pegiat literasi, Aditya Nugraha, meninggal dunia pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 01.32 wita di Rumah Sakit Hadji Boedjasin setelah berjuang melawan penyakitnya. Almarhum berpulang pada usia 45 tahun.
Semasa hidup, Adit, sapaan akrabnya dikenal sebagai figur yang hangat, easy going, serta penuh dedikasi dalam merangkul dan memotivasi generasi muda. Ia aktif mengembangkan ruang-ruang kreatif lintas genre: mulai dari musik, teater, sastra, hingga perfilman.
Adit juga merupakan penggagas komunitas sastra Literasi Senja, pendiri rumah produksi Tadah Alas, serta salah satu sosok yang mendorong tumbuhnya komunitas Standup Indo Tala.

Tak hanya berkecimpung di dunia seni, ia juga menjadi motor penggerak peningkatan literasi di Tanah Laut melalui perannya di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Salah satu program penting yang ia dorong adalah Rumah Belajar Modern (RBM), ruang belajar dengan berbagai kelas pengembangan diri seperti sastra, musik, teater, seni lukis, bahasa, hingga keterampilan praktis seperti barista dan baking.
Adit adalah Aparatur Sipil Negara yang pernah menjabat sebagai Kabid Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kabupaten Tanah Laut (2022–2026), sebelum mengemban tugas sebagai Sekretaris Camat Tambang Ulang Kabupaten Tanah Laut.
Kehilangan Aditya Nugraha menjadi pukulan mendalam bagi komunitas seni. M. Rizani Z, pegiat seni teater, sutradara, yang juga menggawangi Sanggar Lestari Tuntung Pandang Tanah Laut, menyampaikan duka yang begitu personal.
“Bang Adit bukan sekadar pegiat seni, beliau adalah sahabat, kakak, sekaligus cahaya bagi banyak anak muda yang sedang mencari jalan di dunia kreatif. Kehilangan beliau seperti hilangnya sebuah pelita yang selama ini menerangi banyak langkah.”
Ia menambahkan bahwa Adit adalah sosok yang hadir dengan kesederhanaan, ketulusan, serta kepedulian yang tulus. Figur yang tidak hanya menggerakkan seni dari balik meja, tetapi turun langsung bersama para pelaku kreatif, merawat mimpi-mimpi mereka.

“Namun saya percaya, orang baik tidak pernah benar-benar mati. Mereka hidup dalam kenangan, dalam semangat yang ditinggalkan, dalam jejak kebaikan yang terus tumbuh.”
Kepergian Aditya Nugraha bukan hanya kehilangan seorang seniman atau ASN berdedikasi, tetapi hilangnya sosok inspiratif yang berhasil membangun ruang nyaman bagi banyak pemuda untuk berkarya.
Namun karya, jejak, dan semangatnya tetap hidup—terpatri dalam ingatan mereka yang pernah disentuh oleh kebaikan dan ketulusannya, termasuk melalui karya yang kini abadi di telinga para sahabatnya : “Lintang Hati”. (Rossi)










