Antung Mahrita : Kami Terpaksa Bertahan Di Area Transmigrasi Meskipun Harus Berjuang

- Jurnalis

Rabu, 15 April 2026 - 08:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOTABARU, LOGIKABERITA.COM – Kisah menarik saat menjadi warga transmigrasi Desa Bekambit Kecamatan Pulau Laut Timur, Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan sekitar tahun 1980-an, bukan hanya datang dari warga asal Bali saja yang sekarang sebagian besar dari mereka telah kembali ke kampung halamannya dan masyarakat lainnya. Namun, ada pula yang datang dari warga trans lokal seperti Antung Mahrita yang sekarang ia memilih menetap di Desa Bekambit bersama keluarganya.

Pada awal April 2026 kemarin, logikaberita.com mencoba untuk bertemu langsung dengan Antung Mahrita di kediamannya yang tepat berada di depan area sekolah SMP Negeri 2 Pulau Laut Timur, yang sekarang dalam kesehariannya ia bersama suaminya membuka warung makan kecil dan berjualan bahan makanan lainnya untuk masyarakat sekitar.

Ketika ditanyakan terkait dengan kehidupannya saat menjadi warga transmigrasi Bekambit, bukan hanya mengingat masa lalu namun juga ia sempat menitikkan air mata, dengan kisah perjuangannya kala itu hingga akhirnya mampu bertahan selama bertahun-tahun meskipun lahan yang di garap sudah tak lagi dapat menghasilkan.

Tentu hal tersebut bukan hal mudah dan itu memerlukan perjuangan dan kesabaran hingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan lahan pertanian transmigrasi Desa Bekambit yang di kelola karena di nilai sudah tak dapat lagi menghasilkan nilai ekonomis dari hasil tanaman yang di tanam.

Baca Juga :  Polsek Haruai Perkuat Ketahanan Pangan, Lahan Jagung Pakan Di Seradang Dipantau Secara Intensif

Setelah puluhan tahun, ia tak pernah lagi mengingat lahan yang berada di kawasan transmigrasi tersebut yang sebelumnya di garap dan di tanami. Namun belakangan, ada informasi bahwa akan ada tali asih yang diberikan oleh perusahaan yang tentu hal itu merupakan rejeki nomplok yang tanpa di sangka-sangka, Antung Mahrita sendiri mengaku sangat bersyukur atas pemberian tali asih itu atas lahan yang pernah ia garap saat menjadi warga trans Bekambit.

“Kami bermukim di wilayah transmigrasi Bekambit itu sekitar tahun 1986 dan kurang lebih 8 tahun berdiam disana sebelum akhirnya di tahun 1994 memutuskan untuk meninggalkan area tersebut. karena selain sebagian besar masyarakatnya sudah berpindah atau keluar dan juga lahan pertaniannya kami nilai sudah tidak bisa menghasilkan lagi untuk di tanami,” tutur Antung Mahrita yang akrab disapa Julak Antung ini.

Dikatakannya lebih jauh, pada awal-awal bermukim disana khusus untuk lahan pertaniannya di nilai bagus dan menghasilkan. Bahkan, sempat dilakukan panen raya padi yang artinya pada tanam awal menjanjikan. Namun setelahnya, karena banjir satu persatu warga transmigrasi mulai berpindah atau keluar dari sana.

Baca Juga :  Banjir Di Kalimantan Selatan Adalah Kejahatan Ekologis : Menagih Tanggungjawab Negara

“Kalau kami, mau tidak mau karena yang di miliki hanya lahan dan rumah disana, terpaksa harus bertahan bersama beberapa orang warga lainnya, meskipun sekali lagi harus diakui lahannya sudah tidak bisa ditanami lagi karena kondisinya yang sering banjir,” jelasnya menambahkan.

Setelah keluar dari wilayah transmigrasi di tahun 1994, sambungnya lagi, kurang lebih 25 tahun lahan pertanian yang sebelumnya di kelola sudah tidak pernah lagi didatangi bahkan tidak terpikir lagi untuk kembali, dan dalam waktu setahun terakhir ada pemberian tali asih yang dilakukan oleh pihak perusahaan, tentu hal itu menjadi hal yang sangat baik baginya.

“Jujur saja, kalau tidak ada perusahaan yang akan melakukan aktifitas mereka disana maka lahan eks transmigrasi tersebut tentu tak laku di jual, siapa yang mau membeli lahan di area itu. Kami pribadi sangat senang ada tali asih oleh perusahaan,” tutupnya. (rhm)

Berikut sebagian cuplikan wawancara dengan Ibu Antung Mahrita :

Follow WhatsApp Channel logikaberita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ayooo… Berkegiatan Di Masjid Jami Baitul Abrar !!!
Bayi Temuan Di Bawah Kolong Jembatan Belum Dapat Diadopsi, Pencarian Orang Tua Kandung Jadi Prioritas
Buaya Menerkam Remaja Di Tanah Bumbu, Tim SAR Berhasil Evakuasi Korban Dalam Kondisi Meninggal
Kasus Dugaan Asusila Di Instansi Vertikal Tala Terus Bergulir, SP2HP Terbit Dari Kepolisian
Tangis dari Bawah Jembatan Besi Angsau!! Bayi Perempuan Ditemukan Terbungkus Plastik, Polisi Buru Pelaku
Kuasa Hukum : Tidak Pernah Ada Restorative Justice Dalam Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Oknum Pejabat Di Tanah Laut
Dari Tanah Laut untuk Dunia, Satu-satunya PMI Kabupaten/Kota di Indonesia Raih Pendanaan Uni Eropa dan Cetak Pelopor Lingkungan Muda
Dari Aksi Ke Verifikasi, Tim Terpadu Pastikan Transparansi Penyaluran Solar Subsidi Nelayan
Berita ini 184 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:57 WITA

Ayooo… Berkegiatan Di Masjid Jami Baitul Abrar !!!

Kamis, 16 Juli 2026 - 03:57 WITA

Bayi Temuan Di Bawah Kolong Jembatan Belum Dapat Diadopsi, Pencarian Orang Tua Kandung Jadi Prioritas

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:17 WITA

Buaya Menerkam Remaja Di Tanah Bumbu, Tim SAR Berhasil Evakuasi Korban Dalam Kondisi Meninggal

Senin, 13 Juli 2026 - 15:39 WITA

Kasus Dugaan Asusila Di Instansi Vertikal Tala Terus Bergulir, SP2HP Terbit Dari Kepolisian

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:31 WITA

Tangis dari Bawah Jembatan Besi Angsau!! Bayi Perempuan Ditemukan Terbungkus Plastik, Polisi Buru Pelaku

Berita Terbaru

Jakarta

Deny Rahmad Jadi Ketua PKB Kotabaru Termuda Se-Kalsel

Rabu, 22 Jul 2026 - 23:43 WITA

Daerah

Ayooo… Berkegiatan Di Masjid Jami Baitul Abrar !!!

Sabtu, 18 Jul 2026 - 16:57 WITA