BANDUNG, LOGIKABERITA.COM — Momentum Peringatan Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia tahun 2026 menjadi ajang penguatan solidaritas dan jejaring relawan di Jawa Barat. Kegiatan yang mengusung tema “Relawan Ngumpul Ngariung untuk Jawa Barat Istimewa” ini digelar pada Kamis (14/5/26), di rooftop Gedung DPRD Jawa Barat dan diikuti sekitar 175 peserta dari berbagai unsur kerelawanan.
Peserta terdiri dari relawan Palang Merah Indonesia, Korps Sukarela (KSR) perguruan tinggi, KSR unit markas PMI kabupaten/kota, komunitas relawan, serta berbagai organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan peran Palang Merah Internasional dalam mendorong solidaritas dan kesiapsiagaan relawan menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan global.
Pembukaan kegiatan turut ditandai dengan pemutaran video dokumentasi kegiatan relawan yang dipersembahkan oleh KSR PMI markas kota Bekasi, yang menggambarkan dedikasi relawan di berbagai situasi darurat.
Salah satu agenda utama adalah talkshow kerelawanan bertema “Peran Strategis Relawan PMI dalam Menghadapi Perubahan Global dan Tantangan Kemanusiaan Masa Kini untuk Jawa Barat Istimewa.”
Diskusi ini dipandu oleh Dadang Koswara, relawan PMI Kota Bandung, dengan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya perwakilan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), unsur legislatif Jawa Barat, pengurus PMI Jawa Barat, serta perwakilan Forum Relawan PMI.
Dalam pemaparannya, Awan Dirga Aristo dari IFRC menjelaskan, nilai “United in Humanity” menjadi fondasi utama gerakan kemanusiaan global yang menyatukan seluruh relawan tanpa memandang latar belakang.
Sementara itu, anggota DPD RI Jawa Barat, Alfiansyah B (Komeng), turut membagikan pengalamannya saat terlibat sebagai relawan dalam penanganan bencana gempa di Lombok.
“Saya awalnya kira relawan itu hanya membantu ambulans. Ternyata banyak sekali peran di lapangan,” ujar Komeng.
Ia menekankan bahwa relawan tidak hanya hadir membawa bantuan logistik, tetapi juga berperan dalam pemulihan psikologis korban agar dapat kembali bangkit.
Narasumber lainnya, Dr Tom Maskun, menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan dan jejaring relawan lintas wilayah. Ia menegaskan bahwa relawan merupakan garda terdepan dalam setiap situasi krisis kemanusiaan.


Sementara itu, Dr Tjatja Kuswara menekankan pentingnya standardisasi kompetensi relawan agar setiap tindakan di lapangan sesuai dengan prosedur dan standar organisasi. Adapun Sulaeman menyoroti pentingnya menjaga semangat dan militansi relawan dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Kegiatan dilanjutkan dengan Solidarity Challenge, One Team, One Humanity, sebuah forum berbagi pengalaman dan penguatan kerja sama antarrelawan yang dikemas dalam bentuk aktivitas interaktif dan team building.
Forum ini juga menghasilkan berbagai masukan dari relawan, antara lain penguatan pembinaan berkelanjutan, peningkatan kapasitas, perlindungan relawan, serta perluasan ruang partisipasi dalam kegiatan kemanusiaan.
Dari keseluruhan rangkaian kegiatan, disimpulkan bahwa forum ini menghasilkan 12 usulan dan harapan relawan PMI Jawa Barat. Usulan tersebut akan disampaikan kepada Pengurus PMI Jawa Barat sebagai bahan evaluasi dan penguatan sistem pembinaan relawan ke depan.
Secara umum, kegiatan berlangsung lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat jejaring, solidaritas, serta komitmen relawan dalam menghadapi tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penguatan gerakan kemanusiaan di Jawa Barat, sekaligus mempertegas peran relawan sebagai garda terdepan dalam aksi-aksi kemanusiaan. (KSR PMI Universitas Al-Ghifari/Rossi)










