BANJARBARU, LOGIKABERITA.COM – Aroma bumbu kacang yang gurih dan petis yang khas setiap sore, mulai pukul 16.00 hingga 22.00 wita, selalu menyambut para pelanggan setia di sebuah kedai sederhana di Jalan Japri Zam-Zam, Kelurahan Kemuning, Banjarbaru. Di tempat inilah Mustijah, akrab disapa Bi Ijah, menjaga teguh warisan kuliner keluarga yang telah bertahan lebih dari tiga dekade.
Kepada logikaberita.com, perempuan kelahiran 1981 ini mengaku bahwa dirinya bukan sekadar pedagang pecel dan rujak cingur. Ia adalah pewaris rasa legendaris yang telah melalui perjalanan panjang sejak usaha itu dirintis sang ibu pada era 1990-an. Dari tangannya, tradisi itu terus hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat sekitar.

Sejak kecil, Bi Ijah sudah akrab dengan suasana dapur dan aroma khas bumbu kacang buatan ibunya. Ia memperhatikan setiap proses itu ia pelajari dengan seksama.
Ingatan-ingatan tersebut menjadi bekal ketika pada 2007, tanpa ragu, ia memutuskan melanjutkan usaha keluarga ini dengan satu janji, menjaga keaslian rasa.
“Saya tetap pakai cara ibu. Kalau ada campur tangan orang lain, rasanya berubah. Saya jaga sendiri sejak dari dapur sampai ke tangan pembeli,” ungkapnya.

Dedikasinya terbukti. Hingga kini, lapak Bi Ijah tak pernah sepi. Pekerja kantoran, ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pelanggan lama yang sudah mengenalnya bertahun-tahun terus berdatangan pada jam operasional.
Meski bekerja seorang diri di depan cobek pembuat sambal kacang legendnya, anak-anak dan suaminya kompak turut membantu, Bi Ijah mampu melayani 150 hingga 200 porsi pecel dan rujak cingur setiap hari. Ia mengulek bumbu satu per satu, memastikan setiap pelanggan mendapat rasa yang sama, konsisten dan autentik.
Kenaikan harga bahan pokok pun tak membuatnya serta-merta menaikkan harga secara drastis. Pecel yang dulunya Rp13.000 kini hanya menjadi Rp14.000, sementara setengah porsinya dari Rp11.000 menjadi Rp12.000.
“Saya paham kondisi sekarang. Kenaikan sedikit itu untuk menutup bahan baku saja. Yang penting semua orang tetap bisa makan enak,” tuturnya.
Sikap sederhana ini membuat pelanggan merasa dihargai dan tetap menjadikan lapak Bi Ijah sebagai tujuan utama untuk menikmati pecel maupun rujak cingur.
Dalam perjalanan tiga dekade menjaga warisan rasa, Bi Ijah punya kisah manis dan pahit. Salah satu tantangan terbesar adalah menghadapi ketidaksabaran sebagian pelanggan.
“Sering ada yang marah karena kelamaan. Ya maklum, saya kerja sendiri. Tapi saya terima saja, itu bagian dari usaha,” ceritanya.
Namun di balik tantangan, ia juga banyak memperoleh hal menyenangkan. Setiap hari pelanggan baru berdatangan, dan tak sedikit di antara mereka yang kemudian menjadi teman dekat.
“Suka ketemu orang baru. Dari ngobrol sebentar bisa jadi kawan. Itu yang buat saya semangat terus,” tambahnya.
Di tengah teguran dan desakan waktu, selalu ada pelanggan setia yang mengatakan, “Tidak apa menunggu, yang penting rasanya tetap seperti dulu.” Kalimat sederhana itu menjadi penyemangat terbesar bagi Bi Ijah untuk terus melanjutkan usahanya.

Lebih dari sekadar berjualan, Bi Ijah sejatinya sedang merawat memori. Setiap bumbu yang ia ulek, setiap porsi yang ia sajikan, adalah cara untuk menghidupkan kembali cerita ibunya setiap hari.
Warung sederhana ini bukan hanya tempat makan, melainkan ruang kecil yang menyimpan sejarah keluarga, ketekunan, dan cinta terhadap tradisi kuliner.
Dengan mempertahankan kualitas, konsistensi, dan ketulusan dalam melayani, Mustijah membuktikan bahwa warisan terbesar bukanlah harta benda, melainkan dedikasi dan rasa yang terus hidup di lidah para pelanggan, dan akan dikenang lintas generasi. (Rossi)










